Berita Viral dan TerUpdate

Monday

Kisah Mualaf Bos JNE dan Mimpinya Dirikan 99 Masjid

Kisah Mualaf Bos JNE dan Mimpinya Dirikan 99 Masjid

Kisah Mualaf Bos JNE dan Mimpinya Dirikan 99 Masjid

Ada kisah mengharukan di balik perjalanan hidup pendiri PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Johari Zein (Djohari Zein). Berkaitan dengan mimpinya mendirikan 99 masjid.

Sejak dirinya memutuskan untuk menjadi seorang mualaf, pada tahun 1982, pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, 16 April 1954, itu dikenal sebagai pengusaha Muslim yang menginspirasi.

Sebab, Jo—begitu ia biasa dipanggil—yang dibesarkan di tengah keluarga Tionghoa, sudah memiliki jiwa kewirausahaan, sejak usia 12 tahun.

Pada tahun 1966, tepatnya setelah ia dan keluarga pindah ke Jakarta, Jo, memulai bisnisnya.

Saat itu, ia yang masih duduk di bangku SMP, memutuskan untuk membuat majalah, dan menjualnya kepada teman-teman.

Berhasil, usahanya berlanjut hingga ia duduk di bangku SMA.

Selepas kuliah di Akademi Perhotelan Trisakti, Jo, bekerja di Hilton International Hotel, Jakarta.

Ia mengawali karier sebagai seorang pelayan, hingga akhirnya dipercaya menjadi supervisor kasir, di front office hotel (Hotel Sultan).

Tetapi Jo, tak menjalani karier-nya ‘lurus-lurus’ saja. Sebab, pada 1980, ia memutuskan untuk beralih profesi, yakni sebagai salesman di perusahaan jasa pengiriman multinasional, TNT.

Kinerja yang baik, membuat Jo, kembali mendapat kepercayaan. Kali ini, setelah bekerja beberapa tahun, ia dipromosikan menjadi Operation Manager TNT Indonesia.

Namun, lagi-lagi, Jo, melepas kariernya yang sedang berada di puncak.

Tahun 1985, ia memutuskan untuk kembali merintis usaha jasa pengiriman, yang diberi nama Worldpak (kemudian berganti menjadi Pronto).

Apakah Jo, diam di situ? Tidak. Pasalnya, pada tahun 1990, ia menjual seluruh sahamnya di Pronto.


Inilah kisah awal, Jo, bergabung dengan pemilik jasa pengiriman paket Titipan Kilat, dan mendirikan JNE.

Di perusahaan itu, Jo, menjadi salah satu pendiri sekaligus pemegang saham.

Ia berhasil membesarkan JNE, yang awalnya hanya memiliki delapan karyawan, dengan modal Rp100 juta.

Kini, JNE berkembang menjadi perusahaan besar, dengan lebih dari 15 ribu karyawan, serta memiliki lebih dari 5.000 jaringan agen.

Setiap harinya, JNE, melayani lebih dari 400 ribu paket dengan tujuan dalam dan luar negeri.

Penjualannya terus bertumbuh, rata-rata 40 persen per tahun, setidaknya dalam lima tahun terakhir.

Selain menjabat sebagai Presiden Komisaris JNE, Jo, juga mulai berinvestasi di bidang teknologi informasi.

Tepatnya pada tahun 2017, ia mendirikan perusahaan logistik berbasis aplikasi online bernama Paxel.

Jo, juga masih aktif memimpin perusahaan lain, yakni Gorila, Kawan, Omiyago, dan Alien, serta yayasan ‘Johari Zein Foundation’, yang memiliki misi, membangun 99 masjid.

Sejak memutuskan untuk memeluk agama Islam, Jo, memang mantap menjadikan Al-Qur’an, sebagai petunjuk hidupnya.

Hingga pada saat menjalankan ibadah umrah di tahun 2009, Jo, berdoa di Masjidil Haram, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar di-izinkan mendirikan masjid.

Tak lama setelah itu, Jo, mendapat jawaban melalui mimpinya, “Jangankan satu, 99 masjid pun di-izinkan,” demikian yang ia sampaikan.

Jo menilai, mimpi tersebut bukanlah mimpi biasa. Ia menganggapnya sebagai sebuah perintah, yang harus dilaksanakan.

Maka itu, Jo, pun bertekad untuk mendirikan 99 masjid, dengan nama sesuai Asmaul Husna.

Tekadnya bukan hanya soal membangun masjid, sebab dirinya, juga aktif dalam kegiatan amal.

Bagi Jo, beramal adalah kewajiban setiap Muslim. Wajib dilaksanakan, karena diperintahkan dalam Al-Qur’an.

Jo, juga mengaku ingin terus berkarya di sepanjang usianya. Berkontribusi, membangun bangsa di bidang ekonomi. Membantu generasi muda, agar sukses mencapai tujuan.

“Hidup harus punya tujuan,” nasihat itu yang kerap disampaikan Jo, kepada pada pemuda, terutama kelima anaknya.

(ngelmu.co)
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Mualaf Bos JNE dan Mimpinya Dirikan 99 Masjid