Berita Viral dan TerUpdate

Tuesday

Kisah Mualaf Didi Kempot Hingga Kesederhanaan yang Tak Luntur

Kisah Mualaf Didi Kempot Hingga Kesederhanaan yang Tak Luntur

Kisah Mualaf Didi Kempot Hingga Kesederhanaan yang Tak Luntur


Kepergian penyanyi dan pencipta lagu campursari, Dionisius Prasetyo (Didi Kempot), membuat ‘Sobat Ambyar’, merasa kehilangan. Bukan hanya karena karya-karya pria 53 tahun itu, tapi juga kesederhanaannya yang tak berubah, meski sedang berada di puncak karier.

Begitupun dengan perjalanan hidupnya sebagai seorang mualaf, menjadi perhatian tersendiri bagi para penggemar.

Pada tahun 1997, Didi, memutuskan untuk masuk Islam, sebelum resmi meminang istrinya, Yan Vellia.

Salah satu orang yang membagikan perjalanan spiritual Didi, adalah pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta, Gus Miftah.

“Saya tegaskan, almarhum Didi Kempot adalah seorang Muslim… mohon doa terbaik untuk beliau. Al-Fatihah,” tulisnya di akun Instagram pribadi, @gusmiftah.

Bahkan, di tengah puncak karier-nya, Didi, istri, dan kelompok musik pengiring, disebut kerap menghadiri pengajian Gus Miftah.

“Jenengan janji to mau Ngaji ke pondok lagi… Sebelum viral, almarhum beserta istri dan crew-nya, sering Ngaji ke pondok,” kata Gus Miftah.

“Terakhir kali Ngaji dan nyanyi bareng di resepsi nikahan gus @alamudin.dr, kita bikin slogan ‘Sobat Ambyar’ vs ‘Santri Ambyar’, dan jenengan berbisik, ‘Besok Ngaji ke pondok lagi nggeh’,” sambungnya.

“Hari ini kamu berpulang, Mas. Aku nyekseni, Mas. Jenengan orang baik. Atiku ambyarrrr, Mas, tapi aku kudu ikhlas. Selamat jalan sahabatku,” pungkas Gus Miftah.

Apa yang diwariskan Didi, bukan hanya karya seni berupa lagu-lagu campursari, tapi juga keinginannya membantu sesama.

Di penghujung usianya, sosok yang memiliki pengaruh besar itu, masih sempat melakukan kebaikan.

Pada Sabtu (11/4) malam, Didi, menggelar ‘Konser Amal dari Rumah Live’ bersama Kompas TV, untuk para warga terdampak pandemi COVID-19.

Konser yang ia lakukan dari kediamannya itu, berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp7.641.046.346.

Didi, tak sedikitpun mengambil uang dari hasil ‘konser-nya’. Ia langsung menyalurkan donasi yang terkumpul.

Didi, mempercayakan sumbangannya melalui dua organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Sementara dikutip Ngelmu, Selasa (5/5), dari akun Twitter, @BisKota_, terdapat kisah tentang pria yang akrab disapa ‘Lord Didi Kempot’.

Tak ada yang berubah. Setiap kali ke ibu kota, ia masih tetap menginap di Hotel Ibis, dan memilih kamar yang menghadap ke arah perempatan Slipi, Jakarta Barat.

“Dari kamar, saya bisa melihat warung tegal (warteg) di kaki lima, dekat kios penjual rotan, tempat dulu biasa mengutang makan atau menitipkan gitar,” cerita Didi kala itu.

Adik kandung pelawak Mamiek Prakoso, yang juga merupakan anak dari mendiang pelawak Solo, Mbah Ranto Eddy Gudel, itu merupakan ‘alumnus’ pengamen di sekitar warung nasi liwet Keprabon, Solo (sekitar tahun 1984).

“Didi Kempot, dulu juga pernah ikut menjadi pengamen ‘kelompok Slipi’ di Jakarta, menyanyi sambil main gitar dari bus kota ke bus kota,” tulis akun Angkutan IbuKota.

“Selama mengamen bersama kelompok Slipi, kurang lebih tiga tahun, Didi mengaku, indekos di gubuk, di kuburan Palmerah,” sambungnya.

Setiap kali melewati tol Karawaci (Jakarta-Merak), Didi, juga mengaku selalu menengok ke arah sebuah kuburan di pinggir tol, melalui kaca jendela mobil.

“Dulu saya sering tidur di kuburan itu,” kenang penyanyi yang mulai dikenal lewat lagu Sewu Kutho dan Stasiun Balapan.

Popularitas Didi, tak sebatas di Indonesia. Ia justru lebih dulu terkenal di Suriname dan Belanda. Bagi penggemar lagu-lagu berbahasa Jawa, Didi merupakan idola.

“Istri saya (Saputri), dulu buruh pabrik di Tangerang. Ketika kami pacaran (sekitar tahun 1984), praktis kami pacaran dengan gaji dia sebagai buruh,” ungkap Didi.

“Tetapi setiap kali pulang ngamen, barang sebiji rambutan, saya selalu memberinya oleh-oleh,” imbuhnya kala itu, sebagaimana dilansir Kompas, 24 Juli 2005 silam.

Didi, juga menceritakan soal lagu ‘Stasiun Balapan’, yang tercipta di tahun 1999, sepulangnya dari Suriname.

“Saya membayangkan, setiap perpisahan antara dua kekasih selalu menerbitkan perasaan tidak keruan,” ujarnya.

“Haru, rindu, bercampur harapan-harapan pada si dia, kapan kembali. Adegan seperti itu, acap kita jumpai di stasiun,” sambung Didi.

Usai dua tahun mengamen di Solo, dan empat tahun di Jakarta, akhirnya pada tahun 1989, Didi, masuk dapur rekaman, sebagaimana dilansir Kompas, 11 Januari 2002.

Sementara Kempot pada namanya, merupakan kepanjangan dari ‘Kelompok Penyanyi Trotoar’.

Kemarin, Selasa (5/5), almarhum telah di-makamkam di Desa Penthuk Pelem, Majasem, Kecamatan Kendal, Jawa Timur.

“Sekitar dua jam perjalanan dari kota Solo, di lereng Gunung Lawu, jauh dari jalan raya Solo-Surabaya,” tulis @BisKota_.




Henti jantung menjadi penyebab Didi, mengembuskan napas terakhir, di bulan suci Ramadhan, di Solo, Jawa Tengah, sekitar pukul 07.45 WIB, demikian pernyataan dokter yang menanganinya.

Meski Didi, meninggal di tengah wabah virus Corona, sebelum dimakamkan di Ngawi, Jawa Timur, rumah dukanya tetap dipenuhi pelayat.

Selamat jalan, Pakde, semoga husnul khatimah. Aamiin.

Sumber
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Mualaf Didi Kempot Hingga Kesederhanaan yang Tak Luntur