Berita Viral dan TerUpdate

Sunday

Cerita Kolektor Sepeda Antik Asal Borobudur Magelang, Ada 3.400 Unit Berbagai Merek

Cerita Kolektor Sepeda Antik Asal Borobudur Magelang, Ada 3.400 Unit Berbagai Merek

 
Cerita Kolektor Sepeda Antik Asal Borobudur Magelang, Ada 3.400 Unit Berbagai Merek


USIANYA masih belia saat Pram menaiki sepeda pertamanya di Semarang sekitar tahun 1963 silam. Mereknya, Simplex, sepeda tua buatan Belanda, milik ayahnya. Sepulang ayahnya kerja, ia harus diam-diam membawa sepeda itu supaya tak ketahuan. Pram mengayuh sepeda besi itu sampai jauh dan tak pernah berhenti sampai sekarang.

Bagaimana kisahnya Pram dengan 3.400 unit sepedanya saat ini?
Pramono Budianto (71) atau akrab dipanggil Pram, saat ditemui di tempat rental sepeda antik miliknya di Jalan Balaputradewa, Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (28/6/2020).


DARI satu sepeda simplex warisan orangtuanya, kini ia memiliki ribuan sepeda serupa di rumahnya di Jalan Balaputradewa, Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ribuan sepeda itu, Pram tak sekedar menumpuknya, ia merentalkannya kepada semua yang ingin menaiki sepeda. Ia ingin orang-orang dapat mencintai sepeda lagi seperti dulu.

"Saya mencintai sepeda, karena ini adalah produk teknologi yang luar biasa. Sepeda yang sudah ada sejak abad 18-19, dan masih digunakan sampai sekarang. Bentuknya juga sama seperti itu. Saya dulu bekerja dimana-mana, berkeliling dunia. Saya melihat di Denmark dan negara lain di eropa, banyak orang menggunakan sepeda. Di saat banyak kendaraan sepeda motor dan mobil, saya memimpikan sepeda bisa hidup lagi di Indonesia," kata Pramono Budianto (71) atau akrab dipanggil Pram, saat ditemui di tempat rental sepeda antik miliknya.

Pertama kali, Pram sebagai anak kecil yang bisa menaiki sepeda, melihat dunia, dan bebas pergi kemana-mana sendiri, sejak saat itulah ia jatuh cinta dengan sepeda.

Rasa cinta itu yang membawanya mendirikan rental sepeda antik di kawasan Borobudur bernama Wisata Sepeda by Pram. Misinya agar orang-orang dapat naik sepeda kembali.

"Saya memiliki misi agar orang-orang dapat menaiki dan mencintai sepeda.Untuk itulah, saya mendirikan rental sepeda ini, dimana orang-orang dapat menyewa sepeda dan menaiki produk yang luar biasa ini. Sepeda yang membawa kita kemana saja," tutur Pram.

Tujuh tahun yang lalu, pada tahun 2013, Pram mulai berburu sepeda antik di pasar-pasar tradisional di Solo, Jogja, Kebumen, Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Sepeda antik dan tua banyak ditemukan di pasar-pasar desa saat itu. Harganya pun cukup murah.

Sepeda-sepeda itu ia beli dan angkut ke rumahnya. Sepeda yang rusak dipoles dan diperbaiki di bengkel yang juga ada di rumahnya.

Sepeda yang telah berfungsi baik tinggal disewakan. Rental sepedanya resmi dibuka saat itu dan bertahan sampai saat ini.

"Rental ini sudah berumur sekitar tujuh tahun. Lima tahun rental sepeda saya buka, orang silahkan naik sepeda saya. Tak bayar tidak apa-apa. Sempat mati suri. Kemudian, baru bisa hidup lagi tiga tahun lalu. Sekarang rehat sejenak karena ada pandemi, selama empat bulan ini," tutur Pram.

Koleksi sepedanya saat ini sudah mencapai 3.400 unit tersebar di rental yang masih ada di Semarang, Prambanan dan Borobudur. Mereknya berbagai macam seperti Simplex, Gazelle, Fongers, dan Bingress dari Belanda. Ada juga sepeda modern seperti Mamachari dari Jepang, dan sepeda touring.

"Sepeda koleksi saya dari berbagai merek dan negara. Ada yang buatan Eropa Timur, Inggris, Jerman, dan Jepang. Sepeda dari Jepang juga ada. Sepeda Belanda dan lainnya. Jika dihitung sudah ada 3.400 unit," kata Pram.

Pram pun menyewakan sepedanya dengan harga sewa sangat murah. Biaya sewa sehari Rp 15 ribu untuk sepeda tua, sepeda dengan boncengan Rp 25 ribu, dan sepeda touring Rp 100 ribu.

Ada juga paket wisata sepeda yang disediakan olehnya untuk melayani tamu dalam jumlah banyak dengan sepeda ratusan.

Penyewanya kebanyakan dari rombongan wisata atau karyawan perusahaan dan paling ramai saat akhir tahun. Mereka biasanya mengadakan acara gathering dan menyewa sepeda dari rental Pram dan berkeliling melihat kawasan Borobudur.

"Mengapa biaya rentalnya sangat murah, karena jika dihitung pasti tak mungkin akan balik modal. Mengapa, karena saya senang melihat sepeda bisa dikendarai oleh orang-orang lagi," ujar Pram.

Meski banyak sepeda yang lebih modern sekarang, tetapi Pram punya kesukaan tersendiri terhadap sepeda kuno.

Menurutnya, sepeda kuno memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya. Dulu, sepeda simplex salah satu kendaraan yang cukup bagus. Orang sudah cukup dilirik kalau menggunakan Simplex di jalan.

Beda lagi dengan sepeda Gazelle yang dulu jadi simbol kesejahteraan. Orang dipandang karena mengendarai sepeda itu, bahkan bupati dulu juga mengendarai sepeda tersebut. Simplex lebih terjangkau kala itu dan orang-orang yang menengah ke atas dapat memilikinya.

"Pada waktu itu, orang punya sepeda simpleks, mimpinya semua orang. Ki Narto Sabdo, bahkan menciptakan lagu sendiri yang berceritakan Simplex yang menggunakan lampu Berko nganggo berko. Gazelle mahal yang punya bupati dan orang terpandang, simpleks terbeli menjadi orang yang terbeli," tutur Pram.

Merentalkan sepeda kuno terkadang membawa dilema tersendiri. Hanya waktu-waktu tertentu saja, sepeda Pram ramai disewa orang. Kalau pas sepi, terlebih saat pandemi seperti ini, tak ada pemasukan. Pram pun terpaksa menjual sebagian sepeda koleksinya.

Namun, bisnis tetap bisnis. Ia jual sepedanya kepada peminat ataupun kolektor dengan harga yang harus cocok. Harganya pun cukup lumayan saat ini, saat banyak orang meminati sepeda kembali.

Sepeda kuno yang ia beli puluhan tahun silam, sebesar Rp 700 ribu, kini bisa terjual Rp 6 juta, karena barangnya yang sudah langka.

Dulu, Pram memang rajin ngopeni sepeda yang hampir tak ada rupanya dari perosok. Ia beli dan bawa pulang dengan truk. Bagian sepeda yang masih bagus dipisahkan. Bagian yang sudah usang dijual kembali per kilo ke pengepul. Setelah itu, ia rangkai kembali sepeda yang masih bagus dengan bagian yang telah dikumpulkan tadi.

"Sebagian sepeda saya jual kepada peminat atau kolektor asal harganya pas. Saya mulai jual saat keadaan seperti ini, dan saya lihat misi saya sudah sampai. Sekitar 200 unit yang sudah dijual selama pandemi. Tidak apa-apa, karena saya senang melihat orang dapat bersepeda dan mencintai sepeda," tutur Pram.

Kembali ke tujuan Pram menyewakan sepeda antiknya, ia ingin agar orang-orang dapat bersepeda kembali. Meskipun sepeda antik dan kuno akan kalah dengan sepeda modern, bahkan sepeda listrik, tetapi ia ingin agar orang tahu kehebatan sepeda jaman dulu.

Pada masanya, sepeda begitu nyaman, bebas servis, bebas pajak dan dapat membawa orang kemana pun. Ia ingin melihat kejayaan sepeda kembali.

Ada moda transportasi seperti sepeda motor dan mobil membuat banyak orang beralih. Namun, sepeda tetap sepeda seperti dulu. Sepeda adalah kendaraan yang murah dan hemat biaya. Meski banyak yang beralih, tetapi masih banyak lagi yang menaiki sepeda.

"Orang tak tahu nyamannya naik sepeda. Kami buat rental sepeda, orang dapat menyewa sepeda, dan merasakan kenyamanannya. Dan mencintai sepeda. Sepeda modern akan kalah dengan sepeda listrik. Orang harus tahu hebatnya sepeda dulu. Sepeda itu begitu nyaman, bebas servis, pemerintah tak menarik pajak, bisa kemana-mana. Membeli mobil, tetapi kendaraan perlu servis, sedangkan sepeda tidak perlu banyak servis. Sepeda juga murah dan hemat biaya. Perawatan kelebihan sepeda, hampir tak perlu dirawat. Yang penting punya pompa. Berbeda dengan sepeda motor, kalau bannya kecil jadi kurang enak," tutur Pram.

Sampai saat ini usaha rental sepeda antik milik Pram masih terus bertahan. Rencana, usaha rental ini akan diteruskan oleh anak keduanya.

Di usianya 71 tahun itu, Pram juga masih aktif bersepeda. Rutenya pun tak kalah dengan yang muda-muda. Antar kota sudah biasa. Sebagian temannya bahkan kadang meledekinya orang gila kalau bertemu Pram mengayuh sepeda kunonya di jalan.

"Saya masih aktif bersepeda dengan sepeda saya yang tua itu. Kadang diledeki teman pas ketemu di jalan. Ia membawa mobil, melihat saya naik sepeda kuno. Teman saya membuka jendela mobilnya, lantas meneriaki "Hoo wong edan", lalu ketawa-ketawa di jalan," tuturnya.

Pram berharap sepeda terus hidup dan diminati oleh orang-orang. Kereta angin itu ia anggap sebagai teknologi paling canggih yang pernah ditemukan. Sepeda bisa membawa kita pergi kemanapun dengan perasaan bebas dan penuh bahagia. ( Tribunjogja.com | Rendika Ferri K )
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Cerita Kolektor Sepeda Antik Asal Borobudur Magelang, Ada 3.400 Unit Berbagai Merek