Berita Viral dan TerUpdate

Tuesday

DERITA Bocah SD Akibat Kelamaan Tak Sekolah karena Corona, Kurang Gerak Badan Gembrot, Sesak Nafas

DERITA Bocah SD Akibat Kelamaan Tak Sekolah karena Corona, Kurang Gerak Badan Gembrot, Sesak Nafas 

DERITA Bocah SD Akibat Kelamaan Tak Sekolah karena Corona, Kurang Gerak Badan Gembrot, Sesak Nafas


Ini derita bocah SD karena terlalu tak masuk sekolah karena pandemi virus corona. Postur badan jadi gembrot karena kurang gerak.

Akibatnya, ia sesak nafas saat memakai lagi baju-baju seragam sekolah karena kini jadi kesempitan.

Seorang bocah di China ini tampak kesusahan memakai seragam sekolahnya yang lama tidak ia kenakan, imbas dari karantina selama corona.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 membuat berbagai negara melakukan pembatasan.

Mulai dari jaga jarak fisik hingga lockdown dilakukan guna mencegah penyebaran wabah yang telah menelan banyak sekali koerban ini.

Banyak sektor kehidupan pun mengalami gangguan, tidak hanya ekonomi, tapi juga pendidikan.

Siswa sekolah telah sekian bulan melakukan kegiatan belajar dari rumah karena sekolah ditutup.

Materi dan tugas yang diberikan melalui daring atau secara online dan juga melalui berbagai platform yang disediakan pemerintah maupun swasta.

Serorang bocah dibantu neneknya pakai seragam sekolah yang kesempitan. (Tangkap Layar Akun Youtube 中国社会新闻)

Dengan demikian, anak-anak sekolah tentu tidak lagi mengenakan baju seragam sekolahnya.

Dikutip dari China Henan, TK Henan Anyang telah dibuka kembali baru-baru ini.

Sebuah video yang viral di media sosial menampilkan seorang bocah yang sedang kesusahan mengenakan seragam sekolahnya.

Bocah tersebut nyaris tak bisa memakai baju seragamnya lantaran sudah terlalu kesempitan.

Ia telah mendapatkan penambahan berat badan selama menjalani karantina dirumah.

Tampak neneknya membantunya lantaran tidak bisa menarik pakaian untuk mengencangkan kancing.

Baju seragam bocah jadi sempit dan sulit dipakai karena lama tak ke sekolah. (Tangkap Layar Akun Youtube 中国社会新闻)

Sangking sempitnya, bocah itu lantas mencoba mengecilkan perutnya dengan cara menahan nafas.

Wajah imut serta tingkahnya yang lucu dalam video itulah yang membuat warganet terhibur.

Diketahui bocah tersebut berusia kira-kira kurang dari 6 tahun.

Ia telah berada di rumah untuk liburan panjang, imbas dari pemberlakuan lockdown.

Video tersebut diunggah oleh Berita Sosial Tiongkok melalui YouTube pada Kamis (4/6/2020).

Hingga artikel ini ditulis, video telah ditonton sebanyak sekitar 32 ribu kali.

Panduan New Normal Jika Sekolah Sudah Masuk

Pola 'New Normal' akan diterapkan pada para siswa bila sekolah telah masuk nanti.

Lalu seperti apa sistem belajar di sekolah diselenggarakan untuk mencegah penularan virus corona?

Berikut ulasannya:


1. Proses skrining kesehatan bagi guru dan karyawan sekolah

Karyawan dengan obesitas, diabetes, penyakit jantung, paru dan pembuluh darah, kehamilan, kanker, atau daya tahan tubuh lemah atau menurun, tidak disarankan untuk mengajar atau bekerja di sekolah.

Golongan-golongan tersebut dapat diberikan opsi work from home (WFH).

2. Skrining zona lokasi tempat tinggal

Melakukan identifikasi zona tempat tinggal guru dan karyawan. Jika tinggal di zona merah disarankan bekerja di lokasi sekolah dekat tempat tinggalnya.

3. Lakukan test covid-19

Test disarankan dengan metode RT-PCR sesuai standar WHO.

Jika secara teknis terdapat keterbatasan biaya atau reagen maka dapat dilakukan opsi pooling test dengan jumlah sampel kurang dari 30.

4. Guru dan karyawan yang telah lolos tahapan skrining diberi tanda

Bagi guru dan karyawan yang telah lolos tahapan skrining untuk covid-19, maka dapat diberikan tanda.

5. Sosialisasi virtual

Seminggu sebelum kegiatan belajar mengajar diberlakukan, lakukan sosialisasi virtual pola baru ke orang tua, siswa, guru, dan staf sekolah.

6. Atur waktu kegiatan belajar mengajar

Waktu kegiatan belajar diatur agar tidak bersamaan dengan waktu padat lalu lintas dan dikurangi durasi di sekolah.

7. Data dan cek kondisi

Guru kelas terpilih wajib mendata dan cek kondisi siswa dan orang tua siswa secara virtual sebagai skrining awal.

Siswa atau orang tua siswa yang sakit diberikan keringanan tetap belajar di rumah hingga dokter menentukan sehat.

8. Posisi duduk

Pengaturan posisi duduk di ruang kelas dan ruang guru minimal berjarak 1,5 meter. Bila memungkinkan pakai pembatas plastik.

9. Guru tidak berpindah kelas

Guru kelas diupayakan tetap atau tidak berpindah kelas.

10. Menjaga jarak

Guru tetap menjaga jarak dari siswa dan tidak mobile.

11. Skrining harian

Skrining harian sebelum berangkat untuk guru, siswa dan karyawan lewat handphone.Jika suhu di atas 38 derajat, batuk, pilek, gangguan kulit, mata, muntah, diare, tidak selera makan atau keluhan lain, maka jangan ke sekolah.

Fasilitasi kontak puskesmas, klinik, atau RS terdekat.

12. Tidak berkumpul

Pengantar atau penjemput berhenti di lokasi yang ditentukan dan di luar lingkungan sekolah, serta dilarang menunggu atau berkumpul. Hanya berhenti, turunkan, kemudian pergi tinggalkan sekolah.

13. Skrining fisik

Di pintu masuk sekolah, lakukan skrining fisik untuk guru, siswa, atau karyawan yang meliputi suhu, harus bermasker kain dan tidak tampak sakit.

14. Penerapan aturan pola sekolah baru

Penerapan aturan pola sekolah baru yang mengadopsi upaya pencegahan covid-19.

Aturan pola baru meliputi selalu wajib bermasker, pengaturan jarak, tidak menyentuh, membiasakan cuci tangan, penyediaan wastafel dan hand sanitizer pada beberapa lokasi sekolah.

Selain itu, tidak ada pedagang luar atau kantin dan siswa dapat membawa bekal sendiri dari rumah.

15. Informasi pencegahan corona

Pemasangan informasi pencegahan covid seperti di gerbang sekolah dan kelas.

16. Disinfektan

Menjaga kebersihan kelas, meja dan kursi belajar dengan disinfektan setiap hari

17. Tutup tempat bermain

Meniadakan atau menutup tempat bermain atau berkumpul

18. WFH bagi yang bepergian

Guru, karyawan atau siswa yang pulang bepergian ke luar kota dan luar negeri, diberi waktu WHF atau belajar dari rumah selama 14 hari

19. Disiapkan dukungan UKS dan psikologis harian di sekolah

Pemerintah daerah wajib menurunkan petugas medis secara berkala ke sekolah, juga secara reguler dilakukan pemeriksaan secara sampling di sekolah.

Sementara itu, aturan spesifik lain disesuaiakan dengan lokasi dan kondisi

"Kegiatan belajar mengajar relatif aman dilakukan jika seluruh tahapan ini dilakukan. Jika belum siap maka tidak boleh dipaksakan," tegas Dicky.

(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Sekolah Dibuka Kembali Juli Berikut Panduan New Normal Cegah Corona
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : DERITA Bocah SD Akibat Kelamaan Tak Sekolah karena Corona, Kurang Gerak Badan Gembrot, Sesak Nafas