Berita Viral dan TerUpdate

Friday

Usul Kemendibud Masuk Sekolah Awal Juli Ditolak, Menko PMK: Sektor Pendidikan Dibuka Paling Akhir

Usul Kemendibud Masuk Sekolah Awal Juli Ditolak, Menko PMK: Sektor Pendidikan Dibuka Paling Akhir

Usul Kemendibud Masuk Sekolah Awal Juli Ditolak, Menko PMK: Sektor Pendidikan Dibuka Paling Akhir


Usul Kemendikbud masuk sekolah awal Juli ditolak, Menko PMK rekomendasikan Desember

Usulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perihal masuk sekolah pada awal Juli ditolak oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy.

Sektor pendidikan alias sekolah kemungkinan akan menjadi sektor terakhir yang akan dibuka setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir dan berganti 'New Normal'.

"Dibandingkan sektor-sektor yang lain, kemungkinan sekolah adalah sektor yang paling terakhir. Mengingat risikonya tidak bisa dihitung dengan mudah akibat dari pengurangan pembatasan atau pembukaan sekolah," ujar Muhadjir Effendy, Rabu(3/6).

Pemerintah belum dapat memastikan kapan sektor pendidikan dibuka. Namun berdasarkan skenario yang sudah dirancang, paling cepat sekolah baru akan dibuka akhir tahun atau bahkan awal tahun baru.

"Itu hanya ancar-ancar saja. Kalau menurut kalender itu pertengahan Juli, tapi Kemenko PMK tidak merekomendasikan skenario masuk sekolah pada waktu tersebut," ucapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono menjelaskan kegiatan belajar mengajar di sekolah diperkirakan bisa dilakukan pada akhir Desember dengan syarat bulan Juli angka penambahan virus covid-19 sudah di angka 0.

"Kalau di akhir Juli sudah 0 (nol), tapi akan lebih baik di akhir Desember. Worst scenario-nya sampai akhir Desember belajar mengajar dari rumah," ujarnya.

Menurut Agus, selain untuk melindungi anak-anak sebagai generasi bangsa agar tidak terpapar Covid-19 setelah masuk sekolah, momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua memperkuat pendidikan di dalam keluarga.

"Pada prinsipnya tidak hanya belajar online, tapi bisa guru memantau, kunjungan guru ke murid dengan memikirkan physical distancing. Yang jelas kita tidak ingin seperti di Perancis dan Korea Selatan yang membuka sekolah kemudian banyak murid terpapar," tandasnya.

Di sisi lain, Epidemiolog Global Health Security, dr Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD menyarankan untuk tidak membuka sekolah hingga situasi benar-benar baik. "Sekolah sebaiknya ditunda sampai situasi pandemi betul-betul terkendali," kata Dicky.

Menurutnya, membuka sekolah sangat berisiko, termasuk mungkin akan memunculkan gelombang kedua virus corona yang pertama kali diidentifikasi di China ini.

Ia menambahkan, sebuah studi yang diterbitkan Sara et al pada 2012, menunjukkan bahwa seluruh sekolah akan tutup ketika terdapat 0,1 persen populasi mengalami sakit, dan sekolah-sekolah tetap tutup selama pandemi.

Tingkat serangan klinis dapat dikurangi lebih dari 50 persen. Ia menyampaikan bahwa bentuk kenormalan baru dapat berupa motivasi dan kesadaran, mengenakan masker, mengurangi mobilitas, hingga keamanan di sekolah

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengungkapkan, sebanyak 90.519 responden orang tua (46%) menuntut pembukaan sekolah harus berdasar pertimbangan pakar epidemiologi. "Kapan idealnya sekolah dibuka? Menurut responden terbanyak, orang tua ketika sudah dinyatakan sebagai zona hijau atas rekomendasi pakar epidemiologi," kata Retno.

Sebanyak 75.788 responden orang tua (39%) menilai idealnya sekolah dibuka berdasarkan kajian mendalam dan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, di masing-masing daerah.

Retno menerangkan, alasan responden menolak sekolah dibuka pada bulan 2020 beragam. Terbanyak, terkait alasan tingginya kasus positif Covid-19 (60%).

Disusul secara berurutan, kekhawatiran orang tua jika anaknya tertular virus saat perjalanan menuju dan pulang sekolah 47% dan wastafel di sekolah minim jumlahnya 21%.

Lalu, jarang ada sabun cuci tangan di toilet dan wastafel sekolah 19%, jarang ada tisu di toilet dan wastafel sekolah 18%, toilet sekolah tidak bersih 15%, dan toilet sekolah kadang airnya terbatas 15%.

Di sisi lain, sebanyak 66.609 responden orang tua (34%) setuju sekolah dibuka pada Juli 2020, dengan beragam alasan. Terbanyak, terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak dapat berjalan maksimal karena keterbatasan peralatan daring yang mamadai 16%.

Di susul secara berurutan, orangtua kasihan anak-anak terlalu berat mengerjakan tugas-tugas selama PJJ 13% dan mata anak kelelahan selama PJJ karena mengerjakan tugas melalui telepon genggam 10%.

Kemudian, kesulitan siswa membeli kuota internet 6%)dan orang tua sudah jenuh mendampingi anak belajar di rumah 3%. "Data sebaliknya dari orang tua terjadi pada hasil polling anak," ujarnya.

Sebanyak 9.643 responden siswa (63,7%) setuju sekolah dibuka pada Juli 2020. Sedangkan, 36,3% memilih menolak sekolah dibuka pada Juli 2020.

"Tampaknya, anak-anak sudah ingin segera sekolah, mereka mulai jenuh di rumah saja. Mereka, rindu kebersamaan dengan teman-temannya,"kata Retno.

Sementara itu, sebanyak 18.111 responden guru (54%) menyatakan setuju sekolah dibuka pada Juli 2020. Sisanya, menolak sekolah dibuka 46%. "Guru yang setuju dan tidak setuju berbeda tipis, hanya sekitar 8%, tetapi tetap lebih banyak yang setuju. Kemungkinan para guru juga sudah rindu murid-muridnya," tutup Retno.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Aris Junaedi mengatakan, perkembangan teknologi saat ini mendorong eksistensi pendidikan jarak jauh. Sehingga, siswa lebih fleksibel belajar mandiri di tengah pandemi Covid-19.

Terlebih, memasuki new normal ini perlunya menjaga jarak untuk memutus rantai penyebaran virus corona. "Physical distancing menjadi sebuah keharusan dalam berbagai aktivitas, termasuk bidang pendidikan," kata Aris.

Aris menambahkan, diperlukan fasilitas pendukung agar proses pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan baik. Kemendikbud memiliki berbagai program kegiatan terkait pendidikan jarak jauh ini.

Di antaranya, menyediakan platform pembelajaran daring untuk dimanfaatkan oleh perguruan tinggi dan mengakses langsung sumber pembelajaran dari perguruan tinggi lain di www.spada.kemdikbud.go.id. "Sementara, bagi perguruan tinggi dengan keterbatasan online resources, DIkti menyediakan kuliahdaring.kemdikbud.go.id," ucapnya.

Kemudian, lanjut Aris, dilakukan juga kerja sama dengan provider telekomunikasi untuk menyediakan akses internet gratis/berbiaya murah bagi dosen dan mahasiswa. "Ada juga pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam menciptakan materi atau konten pembelajaran daring bagi dosen," jelasnya, dikutip Tribun Jateng.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/TribunJateng)
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Usul Kemendibud Masuk Sekolah Awal Juli Ditolak, Menko PMK: Sektor Pendidikan Dibuka Paling Akhir