Berita Viral dan TerUpdate

Thursday

Viral Petugas PPSU Kerja Sambil Bawa Ibu yang Stroke, Sang Ibu Sering Menangis Kala Musim Hujan Tiba

Viral Petugas PPSU Kerja Sambil Bawa Ibu yang Stroke, Sang Ibu Sering Menangis Kala Musim Hujan Tiba

Viral Petugas PPSU Kerja Sambil Bawa Ibu yang Stroke, Sang Ibu Sering Menangis Kala Musim Hujan Tiba


Sedari pukul 04:00 WIB, Hidayat (38) yang bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) , Pasar Rebo, Jakarta Timur sudah memulai aktivitasnya.

Hidayat memulai harinya dengan kegiataan yang sungguh mulia yakni mengurusi ibundanya yang tengah sakit stroke.

Mulai dari memandikan hingga memakaikan popok, ia lakoni dengan telaten.

Hidayat juga menyuapi ibunya sarapan sebelum mengajaknya ke tempat kerja.

Kisah Hidayat ini sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Pria berumur 38 tahun ini membawa ibunya yang sakit untuk bekerja karena tak tega meninggalkannya sendiri di rumah.

Setiap harinya, Hidayat mendorong sang ibunda di kursi roda menuju Kantor Kelurahan Gedong untuk absen terlebih dahulu.

Kemudian dilanjut menuju zonanya untuk menyapu di Jalan Beringin RW 4, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Untuk sampai di zonanya, Hidayat membutuhkan waktu 15 menit.

"Pas sampai di zona, saya taruh ibu di tempat adem. Biasanya di emperan jalan atau numpang di halaman rumah orang. Habis situ saya baru nyapu," kata Hidayat ketika ditemui TribunJakarta.com, Kamis (4/6/2020).

Setelah zonanya bersih dari sampah, Hidayat selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan ibunya.

Walau tak mengerti bahasa ibunya, Hidayat selaku mencari topik pembicaraan.

Seringkali ibunda Hidayat tiba-tiba meneteskan air mata di tengah pembicaraan mereka.

Namun Hidayat tak mengetahui, apa penyebab sang ibunda menangis.

"Kan ibu saya pukul 10.00 WIB pasti saya suapin makan, di situ sambil ngobrol. Ibu sering nangis."

"Mungkin kasian saya urusin dia sendiri sambil kerja juga,"

"Tapi kalau saya enggak nangis, saya ikhlas rawat orang tua saya," katanya.

Tak hanya itu, ibunda Hidayat juga sering menangis kala musim hujan tiba.

Sebab, ketika hujan tiba, Hidayat semakin tak tega membiarkannya berada di rumah sendirian.

Mau tak mau, ia tetap membawa ibunya dengan memakaikan jas hujan dan menerjang derasnya rintikan hujan.

"Kalau hujan ibu tetap saya bawa. Nanti pas saya nyapu dia saya taruh di tempat teduh."

"Jadi cuma ngeliatin aja. Di situ dia juga sering nangis tapi sebabnya saya enggak tahu,"

"Namun dua bulan terakhir saya tinggal di rumah demi kesehatan ibu karena lagi wabah virus corona."

"Sehingga usai pulang saya buru-buru suapin ibu makan terus mandiin ibu," ungkapnya.

Ayah sudah tiada

Ayah Hidayat meninggal dunia pada tahun 2011 karena sakit magh.

Sementara itu, pria yang belum menikah ini merupakan anak semata wayang orangtuanya.

"Setiap kerja saya selalu bawa ibu. Bapak saya sudah meninggal karena sakit magh di tahun 2011. Sementara saya belum menikah. Jadi enggak mungkin ninggalin ibu di rumah sendiri," katanya.

Hidayat tak mengetahui kisah hidupnya itu viral, tetapi ia mengaku senang.

"Saya enggak tahu kalau viral. Tapi perasaannya senang juga," tutur Hidayat.

Usai terjatuh di kamar mandi, kondisi ibunda Hidayat semakin memprihatinkan.

Bagian tubuh sebelah kanannya sudah tak berfungsi dengan normal atau mati rasa.

Kemudian diperparah lagi ketika ia tak bisa bicara sejak satu setengah lalu.

Miliki keterbatasan

Di balik sosok mulianya, Hidayat sebenarnya memiliki keterbatasan fisik, yakni kesulitan berbicara.

Sehingga orang lain membutuhkan waktu lebih lama guna memahami apa yang diutarakan oleh Hidayat.

Bahkan untuk melakukan wawancara dengan tim TribunJakarta.com, Hidayat dibantu oleh pengawasnya yang bernama Waluyo.

"Ya ini dia dari kecil memang bicara seperti ini. Jadi kalau ngomong sama dia, tangan kita juga berikan isyarat supaya dia paham," jelas Waluyo.

Meski begitu, Waluyo mengakui kinerja Hidayat yang patut diacungi jempol.

Selama lima tahun, tak pernah ada keluhan yang masuk di zona atau wilayah yang diamanatkan pada dirinya.

Sehingga, anggota PPSU lainnya selalu memberikan semangat dan tak sungkan membantu Hidayat selama di lapangan.

"Dia rajin dan bertanggung jawab. Hubungan semua PPSU sama Hidayat itu baik."

"Sebab dianya juga mau belajar. Jadi untuk solidaritas PPSU tinggi ya," katanya.

Untuk itu, Waluyo dan PPSU lainnya selalu berkomunikasi melalui pesan whatsapp ketika tak mengerti apa yang dikatakan Hidayat.

"Jadi kalau arah perbincangan sudah tak dia pahami, kita WA aja. Itu jadi trik PPSU di sini untuk tetap bisa komunikasi sama Hidayat juga," ungkapnya.

Sejauh ini, Hidayat hanya berharap bisa tetap bekerja sebagai PPSU untuk mencukupi semua kebutuhan ibunya termasuk membeli obat-obatannya.

"Alhamdulillah saya selalu dikelilingi orang baik seperti Pak Waluyo. Jadi saya cuma berharap bisa tetap punya pekerjaan demi ibu saya," tandasnya.

(TribunJakarta/Nawi/Indah)
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Viral Petugas PPSU Kerja Sambil Bawa Ibu yang Stroke, Sang Ibu Sering Menangis Kala Musim Hujan Tiba