Berita Viral dan TerUpdate

Wednesday

Guru Ini Bilang Jika Orangtua Adalah yang Terpenting, Namun Ia Malah Menolak Saat Ibunya Ingin Bertemu. Tak Disangka “Hal Mengharukan” Ini yang Muridnya Lakukan

Guru Ini Bilang Jika Orangtua Adalah yang Terpenting, Namun Ia Malah Menolak Saat Ibunya Ingin Bertemu. Tak Disangka “Hal Mengharukan” Ini yang Muridnya Lakukan

Guru Ini Bilang Jika Orangtua Adalah yang Terpenting, Namun Ia Malah Menolak Saat Ibunya Ingin Bertemu. Tak Disangka “Hal Mengharukan” Ini yang Muridnya Lakukan


"Aku adalah seorang guru. Seperti biasa saat jam masuk akupun ke kelas untuk mengajarkan murid belajar, hari itu adalah kelas menggambar maka aku minta murid untuk menggambar apa saja yang mereka inginkan menggunakan pensil warna.



Ada salah seorang muridku bernama Syafiqa, dia adalah anak yang mungkin kehidupannya tak seberuntung anak lain. Bahkan untuk pensil warnapun Syafiqa harus meminjam dari temannya. Hingga aku pun berinisiatif untuk membelikannya pensil warna. Sepulang sekolah aku meminta ia untuk jangan dulu pulang dan kemudian aku memberikan pada ia. Namun saat aku memberikan awalnya Syafiqa tersenyum namun kemudian dia terdiam dan berkata jika ayahnya pernah berkata padanya untuk jangan menerima hadiah dari siapapun. Karena ia adalah orang susah dan mungkin tak bisa membalas apa yang telah orang baik itu berikan.



Aku mendengarnya begitu terkejut, namun kemudian aku memberikan dia pengertian jika bu guru sama sekali tak minta balasan apapun. Aku hanya ingin mulai hari itu ia bisa lebih mewarnai hidupnya dengan lebih baik, akhirnya ia mau menerima.





Beberapa hari kemudian, ibu meneleponku. Seperti biasa ia menanyakan kabarku dan bertanya apakah aku bisa pulang saat hari raya tiba. Namun aku berkata jika aku tidak bisa pulang dan menemui ibu karena pekerjaanku di kantor sangat banyak. Selain itu hal yang tak memungkinkanku untuk pulang adalah mahalnya tiket pesawat untuk pulang. Saat itu aku tidak tau jika Syafiqa mendengarkan percakapanku dengan ibu.



Saat belajar di mulai kembali. Aku membawakan topik tentang hari raya. Aku bertanya pada anak-anak apakah yang paling penting di hari raya namun anak-anak menjawab uang dan Syafiqa berkata yaitu diri sendiri. Namun ketika salah seorang anak berkata yang terpenting itu adalah orangtua maka aku membenarkannya dan berkata pada anak-anak jika yang terpenting itu adalah orangtua kita. Saat itu pula aku meminta pada mereka untuk membuat kartu ucapan bagi orangtua masing-masing dan kemudian diberikan saat hari raya tiba.



Sepulang sekolah, saat anak lain sudah bubar. Syafiqa memanggilku dan bertanya ‘ibu guru, apakah ibu guru juga akan membuatkan unuk orangtua ibu guru?’. Aku terdiam dan hanya memandanginya. Syafiqa tiba-tiba berlari kepelukanku dan ia menangis, entah mengapa. Dan kemudian ia pergi.



Keesokan harinya, Syafiqa tak lagi nampak dikelas. Sudah seminggu lamanya, hingga suatu hari ada seorang tamu yang datang ke sekolah memberikan sebuah surat. Iya beliau adalah ayah dari Syafiqa, dia mengabarkan jika Syafiqa sudah tiada. Selama ini aku tak tau jika dia mengalami kanker otak. Sebelum dia pergi, dia meninggalkan surat ini yang ia berpesan untuk memberikannya padaku.



Aku menangis, arena mengetahui alasan mengapa Syafiqa menangis saat memelukku. Aku membuka surat yang ia berikan dan kemudian membacanya:

‘Kepada ibu Hayati.

Ayah dan ibu sangat penting.

Tapi bagi mereka kitalah yang paling penting.

Pulanglah ibu guru, karena hanya diri kita sendiri yang mampu memberikan senyuman untuk ibu dan bapak kita.

Syafiqa ingin kembalikan pensil warna yang ibu pernah berikan dulu.

Karena sekarang Syafiqa yang ingin ibu mewarnai hidup ibu sendiri. ‘



Sebagaimana pentingnya ibu dan bapak kepada kita. Begitupun kita di mata mereka. Bahkan orangtua merasa kita lebih berharga dari dirinya sendiri. Bahagiakan mereka selagi ada waktu, pulanglah dan temui orangtuamu.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :