Berita Viral dan TerUpdate

Friday

"Kami Tak Menemukan Satu Pun Laki-laki di Kampung Ini.."

"Kami Tak Menemukan Satu Pun Laki-laki di Kampung Ini.."


"Kami Tak Menemukan Satu Pun Laki-laki di Kampung Ini.."


"Kami Tak Menemukan Satu Pun Laki-laki di Kampung Ini.."
Kaum lelaki di Desa Mompang Julu, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara tiba-tiba seolah menghilang ketika polisi menyisir kampung tersebut.

Penyisiran dan identifikasi dilakukan oleh Polres Madina, Polda Sumut serta Brimob pascabentrokan di wilayah tersebut.

"Kami tidak ada menemukan satu pun laki-laki di kampung ini," kata Kepala Urusan Humas Kepolisian Resor Madina Brigadir Kepala Yogi, Jumat (3/7/2020).

Para lelaki dewasa di desa itu diduga melarikan diri dan bersembunyi di perbukitan.


Awal mula bentrok Madina

Pada Senin (29/6/2020), ratusan warga Desa Mompang Julu, Penyabungan Utara, Mandailing Natal, Sumatera Utara memblokade jalan nasional penghubung Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Mereka juga membakar dua unit mobil dan melempari petugas keamanan.

Akibatnya, sejumlah polisi mengalami luka-luka.

Bentrokan ini dipicu oleh kekecewaan warga perihal pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Warga memprotes kepala desa setempat. Uang BLT yang seharusnya dibagikan Rp 600.000,00 hanya diberikan Rp 200.000,00 pada warga.

"Kenapa bantuan yang seharusnya diberikan Rp 600.000 per kepala keluarga namun yang didapat hanya Rp 200.000?" tanya salah seorang warga Awaluddin.

Mereka menuntut kepala desa segera dicopot dari jabatannya.

Mediasi sempat dilakukan, namun warga meminta Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution dan kepala desa didatangkan ke hadapan mereka.

Aksi berujung ricuh lantaran warga menolak dibubarkan hingga polisi membawa satu unit mobil water connon.

Massa membakar dua unit mobil dan satu sepeda motor, serta melempari petugas.

Enam polisi terluka, tiga di antaranya harus dirawat di rumah sakit.


Kepala desa mundur

Senin (29/6/2020) malam, Camat Panyabungan Utara Ridho Pahlevi menyampaikan pernyataan tertulis dari kepala desa.

Kepala desa menyatakan bersedia mundur dari jabatannya.

"Demikian surat pernyatan Kepala Desa yang sudah bersedia untuk mengundurkan diri yang saya bacakan. Dan kami meminta kepada warga untuk membuka jalan demi kenyamanan kita bersama," ungkap Camat, Senin (29/06/2020).

Namun masyarakat belum merasa puas. Mereka menuntut agar aksi kericuhan yang terjadi tidak diproses oleh polisi.

Warga mengancam melakukan aksi lebih besar jika polisi menangkap mereka.


Tiga orang diamankan, warga kembali blokade jalan


Beberapa hari pascabentrok pertama, tepatnya Kamis (2/7/2020) siang, warga kembali memblokade jalan.

Hal itu dilakukan menyusul ditangkapnya tiga warga yang diduga kuat berperan dalam kerusuhan.

"Ada tiga orang warga yang kita amankan. Dan itu yang menyebabkan warga kembali memblokade jalan," kata Kasat Reskrim Polres Madina AKP Azwar Anas.

Warga mendesak supaya proses hukum tak dilanjutkan.

Namun, Azwar mengatakan, permintaan warga tersebut tidak bisa dipenuhi.

"Tetap harus kita proses hukum dan tidak mungkin kita biarkan. Bisa-bisa nanti efeknya lebih besar lagi," tutur dia.

Jalan yang diblokade akhirnya kembali dibuka. Pascaperistiwa itu, sedikitnya 300 personel gabungan terus berjaga di lokasi.


Disisir, awalnya tak temukan laki-laki


Sehari usai aksi kedua, tepatnya Jumat (3/7/2020), Polres Madina, Tim Inafis serta Ditreskrimum Polda Sumatera Utara melakukan penyisiran.

"Penyisiran untuk kepentingan penyidikan serta inventarisasi apa saja kerusakan yang terjadi pascabentrokan," kata Kaur Humas Polres Madina Bripka Yogi.

Dalam penyisiran itu, ditemukan rumah kepala desa dirusak oleh massa yang mengamuk.

Anehnya, polisi tak menemukan satu pun laki-laki dewasa di kampung tersebut.

Diduga mereka bersembunyi dan melarikan diri di kawasan perbukitan untuk menghindari petugas.


"Ini kami bersama Pak Kapolres Madina, Wadir Krimum Polda Sumut dan Brimob sedang turun ke lokasi dan melakukan penyisiran. Dan kami tidak ada menemukan satu pun laki-laki di kampung ini," kata Yogi.

Setelah terus menyisir, polisi akhirnya mengamankan delapan laki-laki dewasa.

"Delapan orang kita amankan saat sedang bersembunyi di semak-semak. Dan sudah kita bawa ke Mapolres," tutur dia.

Dengan demikian, saat ini ada 11 warga yang diamankan.

"Jasi sampai saat ini ada 11 warga dan masih kita lakukan pemeriksaan," kata dia.

Yogi menyebut, situasi saat ini telah berangsur kondusif.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Padang Sidempuan, Oryza Pasaribu | Editor : Abba Gabrilin, Aprillia Ika, Farid Assifa)

Editor: Pythag Kurniati Artikel Asli
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : "Kami Tak Menemukan Satu Pun Laki-laki di Kampung Ini.."